Random Posts

Startup Daerah? Kubur Impianmu Mempunyai Perusahaan Teknologi



Freepik
Membangun bisnis startup di era saat ini menjadi sebuah dambaan bagi para anak muda jaman sekarang, termasuk diri saya sendiri. Di masa saat ini, khususnya Indonesia sudah memiliki role model atau bisa disebut panutan yang sudah berhasil membangun bisnis di industri teknologi. Bahkan mereka sudah menyandang status UNICORN. Sebut saja Nadiem Makariem – Gojek, Achmad Zacky – Buka Lapak, William – Tokopedia, dan Ferry Unardi – Traveloka.
Mari kita melihat kebelakang, 10 tahun lalu. Mungkin konglomerat belum banyak yang percaya anak muda Indonesia mampu membangun bisnis teknologi seperti Mark dari Facebook. Saya yakin dan percaya, para startup UNICORN Indonesia sangat sulit untuk mendapatkan dana untuk pengembangannya di awal. Namun mereka bisa mmebuktikannya saat ini.

Bicara mengenai dana untuk pengembangan startup. Bisnis startup menuntun kita untuk berkembang pesat dan memiliki valuasi yang tinggi dalam tempo yang singkat. Kita bisa lihat perusahaan dulu dengan perusahaan era saat ini.
Perusahaan sekelas Astra membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa mencapai valuasi yang saat ini. Lalu kita tengok Gojek, mereka tidak butuh menunggu waktu yang lama untuk bisa mencapai valuasi sebesar Astra. Bahkan Astra saat ini berinvestasi ke Gojek untuk mengembangkan Gojek.
Hingga saat ini tidak menutup kemungkinan anak-anak muda di era saat ini bisa sukses lebih dini dibandingkan orang- orang pada era 80 an kebawah. Hal ini membuat anak-anak muda berbondong-bondong ingin kuliah di Informatika dan membangun bisnis teknologi. Tak terkecuali putra/i daerah.
Sehingga dapat kita simpulkan, untuk membangun bisnis startup teknologi, kamu harus bisa mengakses investor untuk bisa mengembangkan bisnis kamu.
Namun permasalahannya, banyak putra daerah yang sudah membangun startup namun tidak mampu mengakses pendanaan. Kita bandingkan dengan anak muda yang tinggal di Jakarta, mereka sangat mudah mengakses pendanaan dari investor, walaupun startup nya hanya bertahan beberapa tahun lalu bangkrut.
Anak mudah yang membangun startup di Jakarta lebih mudah mengakses investor, media, maupun mentor. Karena Jakarta memiliki perputaran uang yang banyak, sehingga tidak salah muncul sentralisasi bisnis di Jakarta.
Lalu bagaimaa dengan putra/i daerah yang mampu menyelesaikan masalah, namun tidak tersentuh oleh investor, media dan mendapatkan bimbingan dari mentor yang ahli dalam bidangnya. Karena tiga elemen ini menurut saya yang penting dalam membangun bisni startup.

Tanggal 26 Maret 2019, saya bekesempatan ke Bali untuk mengikuti Global Vanture Summit. Ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di berbagai negara. Namun untuk di Indonesia mereka memilih Bali sebagai lokasi penyelenggaraan. Mungkin biar sekalian liburan juga untuk mereka para saudagar kaya.
Ini acara ini dihadiri oleh para investor dari Sillicon Valley, tempat para perusahaan teknologi besar berkantor dan tumbuh disana. Sekelas Facebook, Uber, Google, Tinder, Twitter dll. Sudah bisa kamu bayangkan bertemu para investor dari peruhaan besar.
Jujur kosa kata bahasa Inggris untuk berbicara bisnis tidak terlalu bagus, namun saya beranikan untuk ngobrol dengan beberapa investor besar dari penjuru dunia. Acaranyapun juga dihadiri oleh startup dari luar negri. Acaranya tidak sebesar konfrensi startup lainnya, sedikit namun intens kita bisa ngobrol dengan para investor dan berecerita mnegenai visi kita ke mereka.
Saya memberanikan diri untuk mendatangi Luben Pampoulov dari GSV Asset Management yang sedang santai dimeja makan untuk menceritakan visi startup saya ke dia. Orangnya sangat welcome tidak sungkan memberikan masukan mengenai ide saya.
Itulah perbedaan ngobrol dengan orang luar negri, setiap ide kita selalu di apresiasi walupun ada hal yang salah mereka dengan baik hati menyampaikan masukannya. Sehingga kita sebagai pendongeng ide tetep semangat melanjutkan perjuangan membangun perusahaan teknologi dengan menganalisis masukan yang diberikan oleh orang yang ahli dibidangnya.
Namun saying, dia tidak saat ini hanya sekedar memantau perusahaan startup Indonesia. Dia tidak memiliki portofolio perusahaan Indonesia.
Singkat cerita di hari kedua, saya bertemu dengan Kevin Sugiarto. Dia salah satu team dari Investor Amerika yang dulu pernah bekerja di NASA.
Saya bertanya kepada dia mengenai permasalahan startup di luar Jakarta.
“Kenapa ya pak startup daerah sulit mendapatkan pendanaan walaupun ide mereka bagus-bagus?”
Dengan santai dia menjawab.
“Begini bro, permasalahaannya banyak startup daerah yang masih malu-malu untuk menunjukan idenya. Masih enggan untuk berani muncul. Tidak percaya diri dan gak mau belajar untuk menutupi kekurangannya. Simple saja, investor kita kebanyakan dari perusahaan luar negri, kalau kamu gak bisa berkomunikasi dengan mereka, bagaimana ide kamu bisa tersampaikan ke mereka para investor. Bahasa Inggris penting untuk berkomunikasi, dan satu hal lagi. Kamu harus berani untuk mengambil resiko, mau berkembang, dan mau menerima masukan”
Ego yang menyebabkan kita terjebak, dan budaya yang berdampak tidak baik terhadap bisnismu segera rubah. Seperti budaya malu, gak enakan, dan sejenisnya.
Sontak saya mengamini statement dia. Dan tepat sekali, beberapa kali saya mengikuti kompetisi startup, saya dituntut untuk presentasi menggunakan bahasa Inggris. Banyak dari kita pengen menjadi orang besar, namun dari hal kecil saja kita tidak mau untuk belajar atau berubah, terutama bahasa.
Jika kita tidak mau keluar dari zona nyaman, lebih baik tutup ide kamu untuk membangun perusahaan teknologi.

Hampir satu tahun saya mencari jati diri untuk menulis artikel. Karena saya jarang traveling maka, konten saya tidak hanya mengenai traveling, tapi juga bisnis dan marketing. Saya harap kalian enjoy dengan konten-kontennya.


Terima kasih sudah membaca sedikit artikel yang saya buat berdasarkan pengalaman saya. Silahkan saran dan kritiknya bisa disampaikan melalui ariefkepler0304@gmail.com.

Startup Daerah? Kubur Impianmu Mempunyai Perusahaan Teknologi Startup Daerah? Kubur Impianmu Mempunyai Perusahaan Teknologi Reviewed by arief firmansyah on April 10, 2019 Rating: 5

No comments

Home Style Widget

Video of the Day